Feeds:
Pos
Komentar

Aku mencintaimu seperti aliran mata air dari bebukitan yang turun membasahi semua ruang dalam jiwaku dan menyejukkan semua kisi-kisi dalam sukma mu. Sedemikian rupa, sedemikian detail nya, sampai hal-hal yang sederhana pun aku terjemahkan dengan cara yang memesona.  Aku memang selalu ingin mencintai sesuatu dengan cara-cara yang baik, dengan cara-cara yang luar biasa.  Aku menyadari sepenuhnya. Seperti juga diriku, diri mu pun pasti banyak kekurangan, kau pun adalah hal yang tak sempurna.  Itu sebabnya, aku ingin selalu mencintaimu dengan cara-cara yang aku upayakan agar luar biasa.

Tapi seperti itulah cinta.  Seperti jalannya air, mengalir, tapi belum tentu selalu berjalan lurus.  Disuatu waktu mungkin ia terbentur bebatuan, dan menimbulkan suara gemercik.  Disuatu saat yang lain, air itu akan melintasi tumpukan krikil-krikil kecil dan akan menimbulkan riak-riak kecil, dan tentu juga menimbulkan gemercik yang lebih lembut. Cinta adalah sebuah perjalanan yang penuh suara, terkadang suara yang membuncah, tetapi bisa jadi, tak jarang melahirkan suara yang demikian lembut, bahkan cinta selalu indah jika saat tanpa suara, saat hening.  Cinta yang memesona adalah seperti air yang mengalir tanpa suara.  Hening.

Aku menuliskan sesuatu tentang mu dengan sederetan kata yang penuh keindahan, karena kau adalah keindahan hidupku.  Lalu aku tuliskan juga metafora tentang dirimu seperti rinai hujan yang turun, aku mencintai hujan sejak kecil, kau tahu itu.  Aku metafora kan setiap helai dari rinai hujan itu adalah sekumpulan huruf-huruf namamu.  Bagiku hujan adalah rinai keindahan.  Yang disetiap turunnya hujan itu seperti butiran air bening yang menebarkan kesejukan, menanggalkan semua kegerahan egoisme dan sederetan keangkuhan yang meradang.  Cinta adalah butiran hujan yang menghijaukan dedaunan, yang melepaskan bau nafas kebusukan, dari tanah-tanah yang merekah karena tersiram butiran bening hujan.  Bagiku cinta adalah pengejawantahan dari tanggalnya keakuan, dan jalan tengah yang penuh keindahan, kesejukan, dan pesona yang tanpa batas.

Demikianlah, kemudian cinta itu aku semaikan dalam waktu-waktu kehidupanmu.  Dengan  keyakinan ku bahwa dirimu adalah anugerah terbaik dalam kehidupanku, musim demi musim kita lalui seperti desau angin.  Air itu terus mengalir, melintasi waktu yang demikian panjang, riak yang bergemuruh, ataupun air yang bergemercikan dengan lembut, semua telah kita lalui.  Kita basah oleh pusaran jaman.  Catatan pada daun-daun masa dan waktu terus berganti, warna pun tak luput meronakan kebersamaan kita.  Seperti itulah aku mencintai mu, dengan segenap-genapnya kasih, dengan sehormat-hormat nya cinta.

Aku menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ku tak cukup bagus untuk menggambarkan kesetiaan mu.  Lukisanku tak cukup indah untuk mengungkapkan apa yang tersimpan, apa yang tersirat dan apa yang tersurat dari balik senyum mu atau pun tangisan-tangisan mu.  Seluruh puisi dan sajak-sajak ku tak cukup memesona untuk mensuratkan keindahan mu.  Tapi itu lah. Cinta memang tak pernah berhenti memancarkan pesona nya justru saat tanpa suara.  Tanpa kalimat.  Karena huruf-huruf tak lagi punya kekuatan saat menuliskan tentang cinta.

Adakah yang tertinggal oleh waktu di belakang sana.  Biarlah kenangan yang akan mengutip satu demi satu cerita yang tertinggal, cerita yang tercecer.  Sampai suatu saat kau benar-benar yakin bahwa aku telah sedemikian rupa mencintaimu dengan sedemikian hebatnya.  Sedemikian luar biasanya. Karena kau adalah keindahan yang tak pernah pudar.  Kau adalah air yang diam.  Air yang hening.

Kau dan Hujan itu

Selalu saja hujan membuat imajinasiku merambah melampui batas-batas ruang dalam pikiranku. Seperti juga dirimu, selalu mengisi seluruh ruang pikiranku, kadang tak lagi kau sisakan unutuk hal-hal yg lain. Adakah lantas dirimu adalah hujan itu untukku ? entahlah…

Apakah teringat olehmu, saat musim hujan di kota Bukit Tinggi itu, kita pertama kali berkenalan.  Mendung yang bergelantungan di diatas kepala kita, tak sedikitpun terpancar dari wajah mu saat itu.  Hamparan dalam bola matamu seperti rerumputan hijau dan bunga-bunga perdu, meneduhkan kelelahanku dari matahari itu.

Menjelang senja, Bus yang kita tumpangi bergerak meninggalkan keteduhan kota, dan sisa gerimis di peron-peron toko.  Bus ini akan membawa kita ke kota yang sama, Yogyakarta.  Tak ada catatan penting yang lain, yang sempat kucatat waktu itu, kecuali keteduhan matamu itu.  Lalu waktu mengantarkan kita di tempat yang terpisah, sampai akhirnya kita berpisah dipersimpangan kecil tatkala kumandang azan Shubuh membelah-belah angkasa menjelang pagi.

Setelah 3 minggu aku selesaikan urusan keluarga di kota yang nyaman itu, aku kembali ke Medan, sehari sebelumnya sempat kutitpkan surat via pos, untukmu  tentang kepulangan ku.  Aku nyaris tak sempat terpikir, apakah ada yang istimewa dari pertemuan kita itu, sampai saat ketika Bus yang akan membawaku ke Medan, bergerak meninggalkan kotamu itu, aku terperanjat, ada yang tertinggal dari jejak hati, aku rasakan rerumputan di padang jiwaku layu, oh Tuhan….mengapa rerumputan ini mengering di tengah musim hujan?  Adakah yang sempat kau tinggalkan di halaman hatiku saat dalam perjalanan itu?.

Tak ada ruang dan waktu yang menjembatani komunikasi kita waktu itu, karena rutinitas kesibukanku menyerap semua apa yang ada ditubuh dan pikiranku.  Sampai suatu saat ketika aku tengah bertugas mengelilingi seluruh wilayah propinsi Sumatera Utara, disebuah kota kecil, tiba-tiba aku teringat kembali padamu, pancaran sisa cahaya dari manik matamu menari-nari berpendar dalam ruang-ruang jiwa ku lagi….cahaya apalagi ini….

Sejak itu waktu dan matahari menemani surat-suratku, melayang-layang menemuimu, kita bertukar cerita, apa saja….satu hal yang kuingat waktu itu, tulisan kamu sangat bagus, indah sekali….aku suka membacanya…untungnya waktu kita berkorespondensi belum ada alat canggih seperti telepon seluler atau email atau apapun lah, yang saat ini tengah menjamur itu… sehingga dengan tulisan tanganmu, aku bisa menikmati betapa indahnya huruf demi huruf lahir dari jemarimu yang lentik itu.

Akhirnya cinta itu hadir juga, datang dengan langkah yang nyaris tanpa suara.  Kita menikmati perjalanan cinta ini dengan terpenggal oleh waktu, karena ruang-ruang memisahkan kita.  Berjuntai cerita tentang kita, memang semua bertutur tentang terpisahnya kita.  Selalu demikian.  Terkadang aku termangu, mengapa sejarah ini selalu berulang, kita membangun impian tentang cinta dalam bentangan jarak-jarak waktu.  Aku menyadari ini sebuah perjalanan yang sulit, tak ada yang mudah untuk mebangun sebuah impian dalam bentangan jarak.  Dan memang benar, sejarah kemudian membesarkan kita dalam ruang-ruang yang terkadang menempatkan kita pada ruang yang berbeda, karena terpisah.

Kenangan tentang hujan, bagiku adalah cerita tentang mu, tentang hari-hari yang menyihir, sampai suatu saat, ketika ruang dan waktu mengantarkan kaki-kaki kita menapaki perjalanan indah ini, tentang sudut Bulaksumur yang rindang dengan cemara-cemara yang menua, tentang taman Boulevard yang menenangkan saat kita selalu mengelilinginya bila kita melintasinya, selalu seperti itu, dan mungkin yang tak terlupakan, kantor pos kecil, yang katamu waktu itu, tempat dimana kau selalu mengirimkan surat-surat mu kepadaku.  Ah…sebuah siluet masa silam itu.

Tak terasakan, waktu berlari saling kejar, dan kita hanya tersenyum kecil mengenang semua waktu….seperti juga hujan, dirimu….bagiku selalu indah.

Tentang Jarak Kita

Sebuah tanya lahir dari senja yang hampir rubuh, dari jiwaku yang nyaris habis oleh kerinduan yang menghenyak kan, atau mungkin dari pandangan mataku yang hampir nanar.  Pertanyaan itu adalah sampai kapan perjalanan yang melelahkan ini sampai dibatas akhir? Sampai kapan kah jalanan panjang tentang kesabaran harus aku bentangkan, dari senja ke fajar…dan dari siang ke malam…

Kadang aku merasakan hidup ini seperti kunang-kunang kehilangan cahaya, sampai aku tak sanggup lagi meraba hatimu, atau sekedar menjamah halaman jiwamu, adakah jarak yang terbentang diantara tempatku berdiri dan di titik tempatmu berpijak, tak lagi membuat mu memiliki kerinduan?  Adakah Jakarta yang gemerlapan itu menjadikan mu silau oleh cahaya, dan kau sampai harus mengabaikan cahaya kecil dari jiwa ku.

Aku selalu mengukur jarak kita, setiap waktu-waktu yang terbujur.  Aku selalu mengukur waktu-waktu sampai dimana ujung cerita ini akan berakhir, dimana pada halte terakhir itu, kita akan kembali tiada berjarak.  Aku merasa ini mungkin hanya sebuah impian.  Aku merasa ujung pena ku sudah mendekati tulisan-tulisan diakhir kelelahanku, menjaga sabar agar tak meluber jatuh diperjalanan ini.  Pada akhirnya aku pasrah.  Tapi yang perlu kau tahu, aku menantimu dalam sudut-sudut waktu yang kelam,  yang tak bercahaya, semuanya serba tak terlihat, karena jarak kita telah menutup pintu-pintu dimana matahari bisa masuk.  Aku seperti terkurung dalam ruangan sempit, yang diriku tak lagi mampu menghitung waktu, menghitung jarak.  Karena semua telah  menjadikan aku termangu dan diam.  Benar-benar diam.

Yang hilang tanpa jejak

Senja itu kurasakan sepertinya langit tak lagi memerah saga, tiba-tiba indah senja itu melayang-layang, aku cuma terdiam, sesaat setelah kau katakan bahwa kau akan melajutkan kuliah ke Jakarta.  Itu berarti ada ribuan kilometer jarak yang akan memisahkan kita, itu berarti akan ada hamparan laut yang memisahkan kita, itu berarti akan ada ruang dan waktu yang akan membentangkan kesepian dan kenestapaan hati.  Semua membuat senja itu tak bercahaya lagi untukku.

“apakah ada yang harus dirisaukan tentang kepergianku” ? tanya mu penuh naïf.

Aku tak menjawab pertanyaan mu senja itu, aku hanya menatap sekilas manik matamu, aku tahu, kau menyimpan kilauan cairan yang bercahaya, yang melumuri kornea matamu, indah memang, tapi aku tahu, kau tengah berusaha menahan tangis.

Senja hampir jatuh, saat cahaya jingga nya menembus batang-batang pohon disekitar tempat kami beranjak, daun-daun kering yang berguguran di pertengahan tahun itu, sebagian jatuh diatas pundak kami, taman hutan raya itu bertambah sepi, laksana gambaran hari-hari ku dengan ketiadaannya.

Hari itu, dua hari sebelum kepergianmu.  Kau memintaku menjemput ke rumahmu, dan memintaku mengantarkan  ke suatu tempat.  Aku tahu, tempat ini adalah ruang tempatmu menjalani kursus piano selama ini.  Kau membawaku ke lantai tiga gedung itu, saat di luar sana matahari mengganas dengan cahayanya yang tanpa ampun.  Aku masuk ke suatu ruangan, mengikutimu, seluruh tubuhku merasakan kesejukan dari alat pengatur udara ruangan itu, yang seketika menyergap tubuhku.

‘Mas, kita ke piano yang di sudut itu, itu piano favorit ku selama 3 tahun ini kursus di lembaga ini, benda itu yang paling ‘dekat’ dengan ku, sebelum Mas masuk dalam kehidupanku.’

Aku hanya diam, menatap piano Grand Yamaha berwarna hitam metalic itu, kulihat dia mengatur posisi duduknya, dibukanya penutup tuts itu dengan perlahan, tanpa suara.  Lalu, menoleh kepada ku,

‘Mas mari duduk disampingku, aku ingin memainkan satu lagu sembari aku menyandarkan sebagian tubuhku padamu’ Kulihat matamu saat itu bercahaya lagi, seperti bias cairan yang tengah tertahan.

Aku menuruti apa yang dia inginkan, aku seperti anak kecil, yang ada di kepalaku saat itu, cuma sebuah gambaran kehilangan yang akan menyergapku, dari waktu ke waktu tanpa batas.

Jari jemari tangan mu, yang lentik dan kuning langsat itu mulai memainkan sebuah lagu, aku kenal lagu itu.  Ketika memasuki reffren lagu itu, kutahu, kau tak lagi sanggup menahan rinai hujan  dari kelopak matamu, rinai itu berguguran, mengalir menelusuri kulit pipi yang demikian menguning langsat, matamu terpejam tak tertahankan, bahkan jemari tangan mu masih terus memainkan tuts-tuts yang sebagian pun pasti ada yang basah, jemari mu demikian hafal dengan lagu itu, sehingga walau tanpa melihat nya, lagu itu tetap terdengar indah.

Akhirnya kau tak mampu bertahan, sebelum lagu itu terselesaikan, kau akhirnya menangis sesunggukan di pelukan ku.  Aku pun tahu, betapa tak sedikit beban yang kau tanggung dengan perpisahan ini.

Tak lagi terdengar denting piano, ruangan itu demikian senyap.  Aku katakan padamu : “Kita jalani saja keadaan ini apa adanya, keadaan tak akan berubah andaipun demikian banyak air mata yang kita tumpahkan, biarkanlah cinta ini menjadi sebuah pengembaraan diatas padang yang tanpa tepi.  Hidup tak sepenuhnya nyata seperti yang ada dalam pikiran-pikiran kita, seperti rencana-rencana kita.  Akupun tak sepenuhnya sanggup dengan keadaan ini, tapi semua harus kita jalani, suatu saat kita akan tahu, di pelabuhan mana cinta ini bersandar, di halte mana cinta ini akan berhenti, dan di ruang mana cinta ini akan bersemayam.  Waktu akan jadi saksinya. Bersabarlah”

Kau mengangguk perlahan sembari menyeka sisa air bening dari wajahmu yang murung, ruang itu masih bisu saat kami melangkah, meninggalkan ruang kenangan itu. Matahari masih garang, masih gagah dengan cahaya nya yang demikian keras.

Pagi itu Medan basah, seusai hujan, masih terlihat ada tersisa rinai gerimis yang jatuh. Hari ini adalah waktu yang akan menerbangkanmu membelah angkasa, membelah jarak yang terbentang diantara kita.  Aku tak sanggup melakukan apapun hari itu, aku terpaku di ruang kelas dimana hari itu aku menjalani ujian 2 mata kuliah, yang menyebabkan aku tak dapat mengantarkan mu ke Bandara Polonia.

Semua hal ada waktu nya, semua hal telah ditentukan saat nya.  Dan keberangkatan mu juga adalah bagian dari waktu yang telah ditentukan saatnya, ada yang tak terjangkau oleh kita, karena kita cuma sebaris anak-anak kalimat yang tak mampu menjadikan keadaan menjadi punya arti.  Ketidakmampuan kita hari ini, adalah mencegah sesuatu yang telah ditentukan waktunya.

Putaran waktu mengelilingi kehidupan tanpa henti, sampai suatu saat kurasakan demikian banyak waktu yang telah tertinggal, jauh sekali, tapi tak lagi dapat kutemukan dimana jejak mu, tak lagi kutahu sudah berapa banyak harap yang terlepas, sudah berapa banyak waktu yang kupindai untuk sekedar mencari bayangmu, tapi semua sia-sia. Kau tak berkabar.  Jakarta terlalu kejam buatku, Jakarta meluluhlantakkan semua impian ku.  Jakarta menenggelamkanmu.

Dua tahun setelah hari kita terpisah itu, kudengar kabar akhirnya, kau menikah. Tak kutahu, kenapa secepat itu, bahkan tak kutemukan sebaris kabar dari mu, sekedar kau katakan selamat tinggal untukku, atau apalah yang dapat kuyakini bahwa aku tak lagi perlu berharap, bahwa waktu juga telah menentukan sesuatu yang lain buat ku.

Di pertengahan bulan ke-30 setelah perpisahan kita itu, tiba-tiba aku menerima sepucuk surat tanpa pengirim.  Tapi aku tahu, tulisan tangan di sampul surat itu adalah garis-garis pena dari jemarimu, aku tahu itu, aku tergetar saat itu, seluruh persendianku terasa bergetar sesaat surat itu aku buka.

Aku baru mendapatkan keyakinan,

bahwa kau adalah lelaki terbaik yang pernah kukenal,

kau yang terbaik buat ku, tapi aku mengkhianatimu.

Aku minta maaf untuk semua luka yang aku buat untukmu,

biar aku menanggung semua hari ini,

semuanya.

Aku terpaku, tegak dalam berdiriku, sesaat setelah kubaca surat mu yang pendek itu.  Aku tak mampu menterjemahkan, apakah yang tengah terjadi padamu.  Dan sampai kini, semuanya tak terjawab.  Tak ada ruang dan waktu bagiku untuk mencari jawab atas semuanya, aku tahu, bahwa aku telah berusaha menjadi yang terbaik buat mu.  Tapi semua hal ada batas waktu, aku tak mampu melukis indah di setiap waktu dalam jalan hidupku, karena semua sudah ada Zat yang mengatur.

Dan semuanya kini hilang tanpa jejak, aku meyakini bahwa semua yang terbaik, yang ku lakukan adalah untukku.  Aku tak menginginkan untuk menjabarkan pengkhianatanmu sebagai sebuah episode paling buruk dalam hidupku.  Karena semua cerita hidupku bukanlah kau yang menuliskannya, tapi Zat itu yang punya rekayasa pasti, bahwa aku akan dan harus melewati rute perjalanan ini.  Sebuah rute yang akhirnya kuketahui sebagai tanpa jejak, tanpa bayang, tanpa sesiapa.

Tanpa Suara

Aku tengah mengingat-ingat waktu dan hari dimana saat pertama kali aku mengenalmu. Saat senja akan jatuh, ketika sebuah pesan pendek masuk ke telepon genggamku. Kubuka, agaknya pesan yang salah kirim, karena nomor dan isi pesan, sama sekali tak kukenal. Aku balas pesan pendek itu dengan pesan yang pendek : maaf, Anda salah kirim.  Tak lama, pesanku itu dibalas lagi dengan basa basi, dan seperti sebuah kejadian kamuflase, pesan pendek yang nyasar itu malah menjadi awal perkenalan kita.  Norak sebenarnya.

Waktu dan masa seperti berlari-lari dan saling kejar, seperti itulah perkenalan kita, cepat dan tanpa terasa sudah memasuki tahun ke tiga.  Waktu yang saling kejar itu, membuatku mengenalmu lebih banyak, tentang dirimu, tentang asalmu dari kota kecil di Jawa Barat,.  Juga sering kamu bertutur tentang pernikahan mu, bahkan sesekali kamu berbicara tentang suamimu.  Tentang rumah kalian di Jakarta, dan tentang bisnis restoran yang dijalankan suamimu.  Dan semuanya, cerita-cerita itu, mengalir seperti air yang menembus jejaring waktu, tanpa batas.

Aku kini tengah mengingatmu, aku bayangkan tubuhmu terbujur lemah, kau tengah mencari kekuatan besar untuk melawan kanker yang mengendap dalam otak mu, ya kanker ganas itu tengah menyerang bagian penting dari tubuhmu itu.  Aku masih termangu, hampir satu setengah jam kita ber-sms, baru saja selesai.  Kau sepertinya nyaris putus asa, sampai kau mengatakan bahwa sangat jarang orang yang dapat lolos dari maut saat selesai di bedah, oleh kanker yang satu ini.

Aku yakin, Allah punya kehendak atas apapun yang terjadi padamu, itu yang kukatakan padamu.  Manusia tak punya kemampuan untuk membuat batasan dan definisi tentang waktu kematian.  Aku katakan, kamu tak perlu putus asa, tak perlu menangis, tak perlu takut dengan hal apapun yang akan kau hadapi esok hari di ruang bedah itu.  Ya, kamu khusus mengajakku berbincang via sms, ditengah-tengah keluargamu yang tengah menjengukmu.  Kamu itu memang aneh, tengah sakit demikian hebat, kamu malah minta ijin suamimu hanya untuk berbincang via sms dengan ku.  Aku hanya dapat katakan padamu, bahwa aku akan berdoa untuk keselamatanmu, untuk kemudahan para dokter yang akan bertugas esok pagi itu, untuk kekuatanmu menjalani pertarungan yang hebat ini.

Jadilah malam itu, aku sulit tertidur, hampir tangah malam aku tertidur, dan sekitar jam 03.15 aku terbangun lagi, karena alarm ku berbunyi, dan aku tunaikan tahajjud malam itu…seluruh doa yg terurai yang aku ijabkan pada Sang Khalik untuk aku fadillah kan bagimu. Dan seluruh doa itu meluncur seperti juga meluncurnya air mataku yg tak tertahankan….

Tiga hari kemudian aku mencoba menelpon ke nomor mu, dan diangkat seorang pria, yang akhirnya kutahu itu suamimu. Kami lantas berbincang sangat lama, tentang penyakitmu, tentang mu seutuhnya.

Demikianlah waktu, yang dengan ruang-ruang nya, diberikannya kita tempat untuk saling berbagi….aku mulai merenungkan perjalanan kita ini, aku mulai tak yakin dengan apa yang kurasakan…bahkan tatkala akhirnya aku mengetahui bahwa kau selamat dari kanker ganas itu, aku merasakan kebahagiaan itu laksana curahan hujan ke tubuhku…aku basah tanpa tersisa…!

Lalu aku biarkan waktu menindas semua cerita kita, aku pisahkan cerita kita dengan dunia yang tak mampu kita menjangkaunya. Aku tak menyalahkan rasa kasih mu itu, tapi aku merasa kita bercengkrama di ruang yang salah. Seperti juga air kali itu, aku hanyutkan semuanya agar terbawa arus sampai dimana cerita itu terdampar.  Hari ini aku menyaksikan dari kejauhan kasih mu itu menyendiri tanpa sesiapa, siang tak jelas wujudnya, namun dimalam hari kerlip nya masih terpancar walaupun redup. Redup sekali.

Seperti diriku yang sampai kini tak mengetahui wujud wajahmu, bahkan suaramu pun tak kuketahui dentingan nya.  Karena hanya pesan pendek yang menemani kita. Demikianlah redupnya. Redup sekali.